Laporan: Kompas.com
Selasa, 7 April 2009 | 18:14 WITA
JAKARTA, TRIBUN — Pemilu tahun 2009 yang dinilai berbiaya tinggi dikhawatirkan membuat peserta pemilu tidak siap menerima kekalahan dalam pertarungan lima tahunan itu. Setiap partai politik harus berani dan siap menerima kenyataan pilihan rakyat, apa pun pilihan mereka. Demikian salah satu butir pernyataan Forum Pemilu Damai yang digagas oleh sejumlah intelektual, Selasa (7/4), di Jakarta.
Sekretaris Eksekutif Forum Pemilu Damai, Alfitra Salam, mengatakan, dibutuhkan kebesaran hati untuk menerima kekalahan. “Para elite parpol yang kalah harus berbesar hati untuk menerima kenyataan tersebut, dan para elite parpol yang menang tidak merasa menang-menangan dan sombong karena kemenangannya,” ujar Alfitra, saat pendeklarasian forum tersebut, di Wisma Antara, Jakarta.
Prasangka-prasangka politik juga diingatkan untuk tidak dikemukakan, apalagi jika tidak diikuti dengan bukti kuat. Sebab, dikhawatirkan, hal itu akan menimbulkan kekacauan. “Bila muncul persoalan hukum, harus diselesaikan secara kekeluargaan, santun, dan beretika politik yang saling menghormati,” ungkapnya.
Para elite partai juga dituntut secara moral untuk turut bertanggung jawab atas proses pemilu yang jujur dan adil. Sementara itu, penyelenggara pemilu, dalam hal ini KPU, harus memberikan jaminan bahwa semua proses pemilu berjalan sesuai dengan koridor hukum. “Dan tentunya dipraktikkan secara konsekuen dan bertanggung jawab,” ujar Alfitra.
Forum Pemilu Damai digagas oleh sejumlah intelektual. Di antaranya Anies Baswedan, Azyumardi Azra, Arbi Sanit, Benny Susetyo, J Kristiadi, Komaruddin Hidayat, dan Hikmahanto Juwana.(*)

